Jelajah ASEAN (8) -end

written by Via Apriyani

 

Kembali ke Singapura (Kamis, 29 Januari 2015)

Karena tidak ingin kemalaman sampai di Singapura, kami memutuskan untuk check out hotel pukul 09.00 dan langsung menaiki bas menuju terminal larkin pukul 10.30. Kami menyempatkan sarapan di dalam bas. Perjalanan dari KL menuju terminal larkin di Johor Baru cukup lama. Dari terminal larkin kami harus berganti bas menuju Singapura dan melewati pemeriksaan imirasi 2 kali. Pukul 17.00 barulah bas benar-benar sampai di suatu terminal yang ada di Bugis street berdekatan dengan Arab street. Disini akan banyak kita temui orang-orang Arab dan masjid terbesar yang bernama masjid Sultan. Kami menyempatkan shalat ashar di masjid sultan yang pada waktu itu sedang mengalami renovasi. Perjalanan hari terakhir di Singapura ini kami akhiri di kediaman rumah kerabat kami, sepasang suami istri alumni UI (di awal telah kami ceritakan sedikit). Alamatnya berada di Ang Mo Kio Avenue 10. Kami tidak sepakat untuk menaiki taksi kesana sebab persediaan uang kami tinggal sedikit. Bermodalkan 1 SGD 30 Cents kami menumpang bis yang cukup nyaman dan cepat. Waktu menunjukkan pukul 20.00, di Ang Mo Kio kami disambut oleh Ibu Dewi yang merupakan seorang dokter lulusan UI dan istri dari Pak Rangga (alumni teknik elektro UI). Kami disediakan makan malam yang sangat enak buatan Bu Dewi. Sepasang suami istri yang telah lama tinggal di Singapura ini menceritakan banyak hal tentang kehidupannya. Sempat terbersit dalam anganku, jika kelak nanti aku telah memiliki keluarga aku ingin bisa menjadi sosok ibu dan istri seperti Bu Dewi. Pasalnya, setelah mendapatkan gelar dokternya ia menikah dengan Pak Rangga dan sempat menjadi pegawai tidak tetap di rumah sakit sebelum ia memutuskan untuk meninggalkan profesinya sebagai dokter. Menurutnya, ketika kita telah memilih untuk menjadi seorang istri dan ibu dalam rumah tangga maka kita harus siap menerima konsekuensi yang muncul. Intinya menyadari kewajiban dan prioritas dalam hidup. Obrolan kami malam itu sangat singkat namun memberikan makna pelajaran hidup yang mendalam.

gambar 14
Ibu dr. Dewi dan kediamannya di Ang Mo Kio Avenue 10

 

3 Negara Berhasil Kulewati, Welcome Back Indonesia (Jumat, 30 Januari 2015)

Flight kami menuju bandara internasional soekarno hatta dijadwalkan berangkat pukul 10.20. Setelah menyempatkan sarapan bersama, kami segera berpamitan menuju changi airport. Kami ucapkan terima kasih kepada Ibu Dewi dan Pak Rangga yang begitu baik mau membeikan kami tumpangan sebelum kami kembali ke Indonesia.

 

Sungguh berat rasanya menutup 10 hari perjalanan yang telah kami lalui bersama di 3 negara. Namun bagaimanapun juga kami harus segera kembali ke negeri tercinta Indonesia untuk menjalankan aktivitas keseharian seperti biasanya. Mengarungi 3 negara sekaligus dalam waktu 10 hari, tidak pernah terbersit dalam pikiranku sebelumnya. Perjalanan 10 hari kemarin bukanlah 10 hari akhir bulan Januari biasa. Aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah mengizinkanku pergi berpetualang bersama ketiga teman yang kubanggakan. Di tiap harinya banyak hikmah yang bisa kupetik, salah satunya pengalaman pergi bersama-sama menorehkan kenangan tersendiri yang mungkin tidak akan kulupakan di masa mendatang. Rasanya ucapan terima kasih tak pernah cukup kuutarakan untuk orang-orang yang berperan dalam perjalanan 10 hari ini. Spesial untuk sesepuh kami di UIAC, ka Jimboy, Ka Ditha, Ka Amy, dan Ka Evy, pembina baru kami Pak Dr. Fithra Faisal serta rekan-rekan UIAC 2014-2015.

 

Mengutip kata-kata dari Pak Rhenald Kasali :

Kita semua tahu tidaklah penting apa yang kita capai hari ini, atau saat ini. Yang lebih penting sesungguhnya adalah apa yang bisa kita pelajari dari sebuah perjalanan dan apa yang bisa kita lakukan di depan. Apalagi perjalanan itu adalah sebuah proses, bukan perhentian akhir. Orang-orang besar itu adalah the climbers, bukan the campers, apalagi the quitters.

 

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat bagi para pembaca.

Teruntuk teman seperjuanganku, pipit, awang, dan mawan terima kasih banyak karena telah membersamaiku dan memberi warna dalam fase kehidupanku. Aku percaya kelak, ketika kalian telah berhasil menjadi dokter hebat kebanggaan umat islam, dan menjadi perawat yang menebarkan kebaikan kita akan tertawa bersama mengenang lika liku perjalanan 10 hari yang tak akan pernah cukup kurangkai menjadi kalimat dalam tulisan ini.

 

-Sepuluh hari itu kita menghadirkan cerita, memberikan makna, dan menciptakan kenangan bersama-


reviewer Ditha Inawati Sam
acc:07022015/0035/am/dithasam

Leave a Reply