Jelajah ASEAN (6)

written by Via Apriyani

 

Check out Guest House, Check in Condominium (Minggu, 25 Februari 2015)

Masa inap kami di Lee House Inn berakhir pukul 12 siang. Pada waktu itu kami memang sudah berencana akan menemui salah satu rekan kami yang sudah lama tinggal di Bangkok. Beliau bernama Pak Dicky, seorang ekspatriat minyak yang kami kenal dari ustdaz Heru Susetyo (dosen di FH UI). Pak Dicky dan keluarganya telah lama tinggal di Grand Diamond Condominium di jalan petchaburi. Kondominium mirip seperti apartemen, sesampainya disana kami langsung disambut dengan penuh kehangatan layaknya keluarga. Kami berkenalan dengan pak Dicky dan cukup banyak mendengar cerita menarik tentang kehidupannya. Beruntung, beliau mau menampung kami untuk menginap semalaman dan kebetulan terdapat satu kamar kosong yang bisa aku tempati. Siang hari setelah kami makan, beliau mengajak kami untuk berjalan-jalan menggunakan mobil pribadinya. Kami diajak berkeliling Bangkok dan berbelanja di pasar tradisional yang bernama Sampeng. Kondisi pasar di Bangkok mirip sekali dengan pasar yang ada di Indonesia. Sore harinya kami diajak kembali berbelanja ke MBK untuk membeli oleh-oleh. Karena keterbatasan dana yang kumiliki, tak banyak barang-barang yang bisa dibeli. Sebelum kembali ke apartemen, kami diantar membeli tiket kereta menuju Butterworth Malaysia di stasiun Hua Lampong. Aku harus merogoh kocek dalam untuk membeli tiket kereta berjenis sleeper train kelas 2 seharga 1120 THB. Tiba di apartemen kami segera beristirahat untuk menjaga stamina karena agenda keesokan harinya sangat padat.

 

Kedutaan Besar Republik Indonesia Bangkok

Pagi sekitar pukul 09.00 kami meninggalkan apartemen Pak Dicky untuk menuju kedubes RI di Bangkok dan bertemu dengan teman-teman PPI Thailand. Akses menuju kedubes sangatlah dekat dari apartemen. Sesampainya disana kami bertemu dengan Pak Yunardi, atase pendidikan kedubes RI di Bangkok. FYI, akses menuju kedalam Kedubes sangatlah ketat. Di dalam kami disambut oleh jajaran staf kedubes RI. Kurang lebih 90 menit kami berdiskusi bersama Pak Yunardi. Hal yang menjadi pokok pembicaraan kami adalah perbandingan pendidikan di Thailand dan Indonesia. Berdasarkan data empiris, jika dilihat dari segi kuantitas riset dan jurnal internasional kedudukan Universitas favorit di Indonesia sangat jauh berbeda dengan Thailand. Beliau sangat miris jika melihat realita pendidikan di daerah perbatasan Indonesia. Menurutnya, pendidikan di Thailand memegang peranan penting dalam perkembangan kemajuan di Thailand. Satu hal yang dipesankan beliau kepada kami pemuda harapan bangsa ialah menjadi akademisi yang sukses dan berkontribusi membangun daerah pelosok di Indonesia terutama wilayah perbatasan yang selama ini kurang begitu diperhatikan oleh pemerintah kita.

 

gambar 9
Foto bersama Pak Yunardi (atase pendidikan kedubes RI di Bangkok)

 

Pertemuan dengan PPI Thailand (Senin, 26 januari 2015)

Waktu Bangkok menunjukkan pukul 11.00, tandanya kami harus segera begegas menuju Chulalongkorn university untuk bertemu dengan teman-teman PPI Thailand. Kami disambut di sebuah kantin fakultas seni. Sebelumnya kami diajak berkeliling sebentar di kampus terbaik di Thailand. Chulalongkorn University, sebuah perguruan tinggi yang menjadi incaran banyak pelajar Indonesia di Thailand. Kampus ini sangatlah luas dan terdiri dari banyak fakultas. Perlu diketahui bahwa sistem pendidikan tinggi di Thailand berbeda dengan Indonesia. Salah satu hal yang unik disini ialah, pihak universitas mengeluarkan kebijakan bagi para undergraduate students untuk mengenakan seragam khusus berwarna putih hitam setiap harinya. Selain itu, di Thailand, setiap universitas memiliki independensi untuk mengembangkan kualitas akademiknya. Pemerintah tidak memegang otoritas untuk mengatur universitas, sehingga universitas diberikan kebebasan untuk menawarkan beasiswa bagi siapa saja. Mungkin inilah salah satu faktor yang menyebabkan kualitas riset perguruan tinggi di Thailand sangat jauh berbeda dari Indonesia.

Diskusi kami selingi dengan makan siang bersama di kantin. Sangat sulit rasanya mencari toko makanan yang halal dimakan oleh mahasiwa muslim di chula. Sekalipun ada, hanya 1 di tiap kampus dan menu yang ditawarkan pun tidak sesuai dengan lidah orang Indonesia.

gambar 10
Foto bersama pengurus PPI Thailand

 

Bangkok-Butterworth

Pertemuan kami dengan teman-teman PPI Thailand memberikan pengalaman tersendiri bagi kami. Selain bisa mengetahui gambaran mengenai sistem pendidikan di Thailand kami juga bisa berkesempatan untuk menambah relasi. Hari ini adalah hari terakhir kami berada di Bangkok, tiket kereta api dari Bangkok akan menghantarkan kami ke ButterWorth pukul 14.45. Kami menuju stasiun Hua Lamphong menggunakan taksi dari chula. Biaya taksi di Thailand tergolong murah dan cukup nyaman berpergian dengan taksi di Bangkok. Kami akan menempuh perjalanan darat dengan kereta selama seharian lebih, kami akan tiba di ButterWorth Malaysia pukul 12.55 pada hari selasa. Sebelum menaiki kereta kuhela nafas panjang sambil berdoa semoga perjalananku akan menyenangkan. Kereta kelas 2 sleeper train tujuan Malaysia ini cukup nyaman untuk digunakan dalam perjalanan jarak jauh melintasi antar negara. Kereta berhenti pada tiap stasiun. Terdapat pedagang yang menjajakan paket makan malam dan sarapan selama di kereta, namun kami sepakat untuk tidak membelinya karena menu yang ditawarkan mengandung daging babi. Tentu kami tidak membiarkan perut kami kelaparan di dalam kereta selama seharian, karena kami telah membeli paket makan ayam goreng KFC yang hampir bisa dengan mudah ditemui di negara yang telah kukunjungi sebelumnya. Sejauh ini aku telah merasakan sensasi rasa yang berbeda KFC 3 negara. Masing-masing negara memiliki cita rasa khas yang tersendiri. Selama di perjalanan kami mencoba mengakrabkan diri dengan penumpang asing lainnya, kesempatan untuk menambah teman dari wilayah lain. Menjelang pukul 19.00 malam tempat duduk kereta diubah menjadi tempat tidur. Nyaman sekali tidur didalamnya, walaupun setiap saat harus siap dengan goncangan kereta api dan juga harus menahan dinginnya AC di dalam kereta. (tbc)

 gambar 11
Stasiun Hua Lamphong

 

 

reviewer Ditha Inawati Sam
acc:07022015/0023/am/dithasam

Leave a Reply