Jelajah ASEAN (5)

written by Via Apriyani

 

Selamat Pagi Bangkok! (24 Januari 2015, Sabtu)

Tepat pukul 11.00 bis merapat pada suatu terminal (lagi-lagi aku tidak tahu nama terminalnya). Kali ini kami merasa cukup secure dengan kehadiran uncle salahudin, beliau mengajak kami untuk menaiki taksi bersama-sama. Tujuan pertamaku di Bangkok ialah penginapan Lee House Inn yang berada di Surawong Road. Kebetulan atau memang ini rencana yang telah diatur oleh Allah, uncle berkata bahwa kediamannya tidak jauh dengan Lee House Inn. Kami sepakat membayar taksi seharga 300 THB ditambah fasilitas guide gratis, yaitu uncle salahudin yang notabene adalah seorang warga asli Thailand. Tak bisa kubayangkan jika kami tak bertemu uncle waktu itu. Kami akan benar-benar lost in Thailand atau malah case terburuk ialah biasanya terdapat jasa guide gadungan yang menawarkan dan meminta sejumlah bayaran yang sangat mahal ke para turis asing polos semacam kami ini.

 

Bangkok yang kulihat tidak jauh berbeda dengan kota Jakarta. Tata kotanya tidak begitu rapi, banyak pedagang kaki lima di pinggir jalan, kemacetan, cuaca panas dan di beberapa tempat kita akan mencium bau yang tidak sedap, entah berasal dari makanan yang dijajakan di jalan atau bau air seni orang disana yang pipis sembarangan. Taksi berputar-putar mencari jalan menuju penginapan kurang lebih selama 1 jam. Sulit sekali rasanya mencari alamat penginapan Lee House Inn. Sudah tak terhitung berapa banyak orang di jalan yang kami tanyai. Tentulah untuk urusan bertanya dengan warga lokal uncle yang turun tangan. Aku sangat bersyukur sekali, uncle Salahudin mau membantu kami sampai sejauh itu untuk menghantar kami sampai di penginapan tanpa meminta bayaran. Informasi penting yang harus diketahui ialah sebagian besar warga lokal Thailand tidak bisa berbahasa Inggris dan sekalipun bisa pengucapan lidah mereka akan sangat berbeda. Lee House jika diucap oleh orang Thailand akan menjadi “li haw” restaurant menjadi “letolan”. What a trouble.

 

Tak lama berselang akhirnya kami sampai dengan selamat di penginapan Lee House Inn. Akan kuceritakan sedikit tentang penginapan ini. Lee House Inn= sebuah guest house yang terletak di jalan surawong road dan didirikan di pojok kanan suatu blok pemukiman. Tugas uncle salahudin tuntas sudah, kini kami harus berpisah dengan beliau. Aku mengucapkan terima kasih kepadanya dan memberikan satu kartu nama agar silaturahmi tetap terjaga.

Penginapan kami di Bangkok cukup nyaman untuk ditinggali dan harganya pun terbilang standar bagi kantong para backpacker. Hari itu kami tidak memiliki agenda khusus sampai hari minggu keesokan harinya. Rencana untuk melancong ke berbagai tempat di Bangkok telah kami siapkan. Namun nyali kami menciut karena melihat sulitnya akses transportasi dan petunjuk jalan disana. Akhirnya setelah makan siang di salah satu restauran halal kami beranikan diri menuju masjid Bangkok dan jalan-jalan ke suatu tempat.

 

Tuk-tuk dan Toko Baju

Berdasarkan info yang kami dapat dari cerita orang yang pernah mengunjungi Bangkok, Maa Bong Kroong merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Maa Bong Kroong atau disingkat MBK menjadi destinasi favorit turis asing untuk berbelanja. Kami putuskan untuk menaiki tuk-tuk sampai kesana. Tuk-tuk= kendaraan tradisional Thailand, kenampakannya seperti bemo yang tidak memiliki jendela, kecepatan tuk-tuk hampir bisa mengalahkan kecepatan mobil balap F1 karena mesinnya terbuat dari mesin jet sky. Salah seorang supir tuk-tuk yang berjenis kelamin bias (laki-laki menyerupai penampilan wanita) berbaik hati menawarkan kendaraan tuk-tuknya kepada kami. Nego harga berlangsung sengit, kami kekeh ingin mendapat harga semurah mungkin sebesar 10 THB namun sang supir bersikeras ingin 20 THB. Akhirnya sang supir tuk-tuk mengalah dan mengijinkan kami berempat menaiki tuk-tuk dengan syarat kami harus mampir terlebih dahulu di suatu toko baju dan bahan pakaian. Sang supir tuk-tuk berkata bahwa kami harus berbelanja di toko baju agar mendapat tiket bahan bakar gas tuk-tuk. Dengan penuh kecemasan dan kepolosan kami memasuki toko baju tersebut. Namun tak sampai 5 menit berada di dalam toko aku berinisiatif mengajak pulang ketiga temanku, firasatku mengatakan ini hanyalah akal-akalan supir tuk-tuk dan penjual baju agar memaksa kami berbelanja di tokonya. Supir tuk-tuk langsung meninggalkan kami begitu tau kami tidak jadi berbelanja di toko. Mungkin cerita ini bisa jadi perhatian bagi teman-teman yang ingin menaiki tuk-tuk di Bangkok agar lebih behati-hati.

 

PAT PONG

Salah satu cara alternatif yang bisa kami gunakan untuk sampai di MBK adalah dengan berjalan kaki selama 30 menit. Tak terasa berjalan kami tiba di salah satu jalan bernama PAT PONG yang sangat ramai sekali. Tempat apakah itu patpong?

gambar 7
Salah satu jalan yang ada di Patpong

 

Berdasarkan informasi yang aku baca dari internet, Patpong merupakan suatu tempat lokalisasi yang paling terkenal di Thailand dan menjad tempat prostitusi yang dilegalkan oleh pemerintah setempat. Astaghfirullah, tanpa tersadar kami telah sampai di Patpong, tempat yang seharusnya kami hindari selama di Thailand. Namun, inilah jalan yang bisa kita lalui untuk menuju MBK dengan berjalan kaki. Jalan dan gang-gang di sepanjang Patpong sangatlah ramai dipenuhi oleh manusia dengan berbagi macam jenis gender. Disini akan kau temui laki-laki berparas cantik yang menjajakan jasa pijat refleksi. Memang sebagian besar bangunan yang ada di Patpong adalah tempat pijat refleksi yang menawarkan layanan ekstra plus-plus. Banyak pula wanita-wanita muda yang menjajakan dirinya bagi para turis yang hanya sekedar melintas atau memang niat pergi ke Patpong. Kaget bukan kepalang ketika ku melihat banyak reklame-reklame aneh yang terpampang, ada night bazaar sale, tiger dance yang menampilkan wanita seksi, dan hal lainnya yang tak bisa kusebutkan disini. Mungkin jika anda penasaran mengenal Patpong lebih jauh tinggal ketikkan PATPONG di mesin pencari google dan kau akan dapatkan cerita yang membuat bulu kuduk bergidik.

 

MBK Part 1

Kami berhasil melalui jalan Pat pong dengan tanpa hambatan, alhamdulillah. Kini kami telah sampai di depan Fakultas Kedokteran Chulalongkorn University, salah satu perguruan tinggi terbaik di Thailand. MBK masih beratus-ratus meter lagi dari sana. Karena cukup lelah kami beristirahat sebentar hingga tiba di siam paragon, mal besar di Bangkok yang menjadi pusat belanja dan mungkin surga bagi para wanita-wanita. Bentuk bangunannya yang unik ditambah keindahan lampu membuat kami tak bisa menahan diri untuk befoto bersama. Puas menikmati keindahan siam paragon kami langsung menuju MBK yang terkenal dengan pasar malamnya. MBK sangat cocok bagi para turis asing yang ingin berbelanja oleh-oleh khas Thailand. Banyak varian barang yang ditawarkan disini dengan harga yang bisa ditawar. Tak lama waktu yang kami habiskan di MBK ini karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Dengan alasan keamanan dan keterbatasan waktu kami memutuskan untuk menaiki tuk-tuk untuk sampai penginapan. Kali ini kami lebih selektif dalam memilih supir tuk-tuk dan tidak akan mudah terperdaya lagi dengan segala bujuk rayuan yang pada akhirnya akan merugikan kami.

gambar 8
Maa Bong Kroong, pusat perbelanjaan di Bangkok

 

 

reviewer Ditha Inawati Sam
acc:07022015/0002/am/dithasam

Leave a Reply