Jelajah ASEAN (2)

written by Via Apriyani

 

Jalur Darat Singapura-Melaka (Rabu, 21 Januari 2015)

Tak ada yang istimewa suasana pagi itu. Rutinitas pagi seperti biasa kulakukan, sarapan setelah bersih-bersih. Di hostel kami disediakan sarapan pagi berupa susu dan roti bersama penghuni hostel yang lainnya. Namun karena pagi itu aku telat bangun alhasil hanya sisa roti saja yang masih ada di meja sedangkan susu vanila yang tersedia hanya menyisakan setumpuk karton di dalam tempat sampah. Rencana perjalananku di hari kedua ini ialah mengunjungi rumah salah satu kerabat dan menuju melaka dengan menggunakan bis. Setelah check out dari hostel sekitar pukul 12 siang, kami menuju 442 ang mo kio avenue 10 menggunakan taksi. Menurut situs gothere.sg kami hanya harus membayar sekitar 5 SGD untuk sampai disana, namun sang driver meminta sebesar 8 SGD untuk mengantar kami ke tempat tujuan. Ang mo kio merupakan salah satu kawasan pemukiman warga Singapura, banyak terdapat rumah susun atau apartemen disana. Tujuan kami pergi ke ang mo kio adalah menitipkan 1 koper barang untuk meringkankan beban hidup dan beban perjalanan kami selama di Malaysia dan Thailand. Kerabatku ialah sepasang suami istri alumni FT dan FK UI angkatan 2000. Mereka telah lama tinggal di Singapura dan sangat senang sekali menerima kedatangan kami. Memang benar, banyak orang yang mengatakan bahwa ketika kita menjadi minoritas di suatu wilayah dan bertemu dengan saudara seiman seagama maka tentram sekali rasanya.

 

Setelah selesai bersilaturahmi dan menitipkan barang, kami bergegas menuju stasiun MRT ang mo kio untuk berangkat ke kranji. Stasiun kranji menjadi gerbang transportasi untuk menuju malaysia. Tak lupa sebelum meninggalkan singapura, aku menukarkan kartu tourist pass dengan 10 SGD. Sampai di stasiun kranji, kami beralih menggunakan bis nomor 170 menuju terminal bis larkin di Malaysia. Jarak tempuh kranji menuju larkin memakan waktu selama 4 jam dengan 2 kali melewati pemeriksaan imigrasi. Bagi turis yang pertama kali ke Malaysia dengan jalur darat dari Singapura memang cukup kebingungan dengan proses imigrasi yang sebetulnya tidak memakan waktu lama. Hanya saja, kita harus turun naik bis dan menyediakan dokumen seperti paspor dan form kunjungan, hal itu cukup melelahkan bagiku ditambah lagi dengan sikap orang disana yang menunjukkan ketidakramahannya.

 

Ketibaan di Negara Truly Asia

Bis yang aku tumpangi dari Singapura akhirnya berhenti di sebuah terminal bis yang cukup padat. Terminal bis larkin, dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas seperti restauran, masjid, dan pusat perbelanjaan. Suasana di terminal kala itu hampir mirip dengan Indonesia, sebagian besar berbahasa melayu dan banyak wanita muslim yang mengenakan hijab. Pertama kali berkunjung ke Malaysia aku merasa sangat nyaman, selain mudah untuk berkomunikasi, menemukan tempat makanan halal, Malaysia juga memiliki sistem transportasi yang lebih tertata dibandingkan dengan Indonesia. Namun, selama berada di negeri orang, sikap waspada perlu kita perhatikan sebagai tameng awal untuk menghindari hal yang tidak kita inginkan. Waktu menunjukkan pukul 16.00, bas (bahasa melayu untuk bis) dari larkin menuju melaka sentral baru ada sekitar pukul 17.00. Kumanfaatkan waktu yang ada untuk shalat di sebuah masjid besar yang ada di atas pusat perbelanjaan larkin dan membeli sedikit makanan untuk bekal perjalanan di dalam bas. Bas yang kutunggu pun akhirnya datang, dengan arahan dari petugas kami menaiki bas yang mirip dengan bas AKAP di Indonesia. Bedanya, kali ini perjalananku dari kota yang sangat asing menuju kota yang lebih asing lagi bagiku sangatlah ekslusif, dari 60an kursi yang tersedia di dalam bas hanya 7 kursi yang terisi. Perbedaan lainnya, jika biasanya di Indonesia kita akan ditemani dengan alunan musik pop Indonesia atau jawa, maka perjalanan selama 4 jam ini kami dibersamai oleh musik India. Maklum, supir bas adalah seorang pria bertubuh tambun, bermata besar, berkumis lebat dan berkulit hitam yang kukira ia bernama inspektur Vijay. Namun ternyata bukan.

 

Malacca City, The City World of Heritage

Pukul 20.30, supir yang mirip dengan inspektur Vijay tadi berteriak bahwa kita sudah sampai di terminal melaka sentral. Kontras sekali dengan larkin, terminal disini cukup sepi. Hanya ada beberapa bas yang parkir dari sekian puluhan platform yang tersedia. Kami pun tak tahu harus melangkah kemana, dari cerita yang kudengar mengenai Melaka, kota ini cukup sepi pada malam hari dan rawan bagi para turis. Malam yang semakin larut membuat kami harus bergegas menuju penginapan yang telah dipesan. Penginapan kami di Melaka adalah sebuah guest house yang terletak di jalan Bukit Cina. Kuberanikan diri bertanya pada orang yang ada di sekitar terminal, namun hasilnya nihil dan justru kami mengalami sesuatu yang menegangkan. Pria melayu yang kami tanyai malah memaksa kami untuk ikut bersamanya dengan dalih akan mengantar kami menuju penginapan. Pria asing itu menawarkan harga yang cukup tinggi untuk menaiki taksinya., berkisar 500 RM. Padahal bila menggunakan bas, hanya cukup mengeluarkan 2 RM untuk sampai ke bukit cina. Akhirnya berbekal petunjuk arah dari salah satu rekan kami yang telah sampai terlebih dahulu di lokasi dekat penginapan, kami menaiki bas. Hanya butuh waktu 15 menit, kami diturunkan di jonker street, suatu jalan yang cukup terkenal di Melaka. Suasana malam di jonker street luar biasa mengagumkan. Kami serasa diturunkan di suatu taman impian. Bangunan-bangunan dengan desain yang klasik, lampu kota, air mancur dan warna-warni bunga yang indah membuat rasa penatku seharian itu terbayarkan. Keindahan jonker street membuat kami lupa diri sejenak akan tujuan untuk menuju penginapan. Kurang lebih 45 menit waktu yang dihabiskan untuk sekedar berjalan-jalan kecil menelusuri jalan sambil berfoto ria. Di sepanjang jalan terdapat Melaka river yang setiap saat dilintasi perahu untuk para pelancong. Karena kelelahan, kami memutusan untuk segera mencari penginapan yang bernama Eastern Heritage Guest House. Bermodalkan peta navigasi dari google maps sambil bertanya dengan siapa saja yang ada di jalan, akhirnya kami sampai di eastern heritage. What a truly night mare. Kukira, guest house yang akan kami tumpangi tidak jauh berbeda dengan hotel shangri la atau hotel berbintang 1, 2, 3, 4 lainnya, tapi ternyata guest house ini adalah sebuah bangunan yang mungkin dibangun pada saat dinasti Chin masih berkuasa. Bisa kutebak, orang yang mengelola guest house ini adalah seorang Tionghoa yang merupakan generasi ke 100 sekian dari pendiri awalnya. Sangat kuno dan menantang untuk ditinggali. Sempat ragu kakiku melangkah, terlihat seorang bapak tua yang bertindak sebagai resepsionis menyapa kami. Setelah menyelesaikan proses administrasi, kami diberikan seperangkat benda-benda yang sangat esensial bagi kehidupan kami selama di Melaka. Kunci kamar yang bergantungkan lempengan besi kuno, password wifi yang tertulis di atas kertas usang, dan peta wasiat (penasaran kan isi petanya apa, hehee). Bapak Tionghoa yang mungkin bernama Koh Gohanyen itu mengantar kami berempat menuju kamar yang terletak di lantai 2 (nama gohanyen kutahu dari username wifi yang terdetect melalui HP, walaupun terlihat kuno tetap ada unsur modernnya kan). Sempat kucuri pandangan untuk melihat beberapa sudut ruang di dalam guest house ini. Pada saat itu pula kami bertemu dengan seorang wanita yang sangat tua berkebangsaan UK.

“I am working in here to help that chinese man” fasihnya dalam berbahasa Inggris. Wanita tua itu berkata ia pernah tinggal di Indonesia selama beberapa tahun sebagai guru bahasa Inggris di Purworejo. Sedikit terpingkal aku tertawa ketika mendengar ia fasih berbahasa Jawa. Di lantai 2 guest house terdapat beberapa kamar untuk ditempati, namun hanya terdapat 1 toilet untuk digunakan bersama yang kulihat keadaannya sangatlah mengenaskan. Tak terawat dan usang ditambah lorong gelap yang harus kami lalui untuk sampai di toilet.. Sempat terbersit pikiran aneh jika tiba-tiba saja muncul makhluk vampir Tionghoa dengan kedua tangan kedepan mengejarku di sepanjang lorong gelap lantai 2. Kuenyahkan jauh-jauh pikiran tersebut, dengan memejamkan mata aku langsung tertidur pulas menanti sang mentari bersinar di keesokan harinya. (tbc)

 

 

reviewer Ditha Inawati Sam
acc:06022015/0316/am/dithasam

Leave a Reply