Jelajah ASEAN (1)

written by Via Apriyani

 

Selasa, 20 Januari 2015,

Cuaca pagi ini sangatlah cerah, tidak seperti prakiraan cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG mengenai puncak hujan deras yang akan berlangsung pada 20 Januari di wilayah Jabodetabek. Selepas mengikuti shalat subuh berjamaah dan waktu berkah subuh di asrama putri PPSDMS R1 Jakarta, aku bergegas mempersiapakkan diri dan menghubungi ibuku yang akan menjemput. Perbekalan selama 10 hari menjalani kehidupan di negeri orang telah kupersiapkan dengan matang. Paspor, tiket pesawat, itinerary dan perlengkapan keseharian lainnya telah kutata rapi dalam koper. Hari ini aku akan bertolak ke bandara internasional soekarno hatta untuk kemudian flight ke Singapura. Kepergianku kali ini bisa dibilang sebagai hal yang serba pertama. Pertama aku berpergian dengan pesawat dan pertama pula aku akan mengunjungi 3 negara di ASEAN sekaligus. Singapura, Malaysia, dan Thailand. Tidak hanya itu, menurut itinerary yang telah ditulis dengan rapi selama 10 hari kedepan aku akan singgah di 6 tempat yang berbeda. Singapura, Melaka, Johor Baru, Bangkok, Hatyai, dan Kuala Lumpur. Tujuan perjalananku kali ini adalah untuk menghadiri international youth discussion di kantor pusat World Youth Foundation (WYF) dan student visit ke PPI Malaysia, Singapura, dan Thailand. University of Indonesia Achievement Community (UIAC) telah mendelegasikan aku dan ke tiga teman yang lain untuk menghadiri acara tersebut. Mereka adalah Pipit Lestari (FIK 2012), Hermawan Pramudya dan Raditya Dewangga (FK 2013).

gambar 1

Delegasi UI Achievement Community

 

First Accident di Counter Air Asia

Tepat pukul 08.45 aku tiba di terminal 3 bandara internasional soekarno hatta. Sesampainya disana, kami berempat bertemu dengan sesepuh yang telah lama berkecimpung di organisasi UIAC, mereka adalah Ka Ditha dan Ka Jimny. Sambil menunggu waktu check in penerbangan, kami diberikan arahan dan 4 buah amplop berisi uang beserta tanda bukti pemesanan tempat penginapan. Dua jam berlalu, kami sudah diharuskan untuk melakukan check in. Setelah berpamitan dengan sanak keluarga dan kerabat dengan sedikit keharuan karena akan melakukan perjalanan jauh menggunakan maskapai penerbangan Air Asia. Pada saat itu tepat 22 hari sebelumnya penerbangan Air Asia QZ 8501 menuju Singapura mengalami peristiwa naas, jatuh di perairan selat Karimata. Sesampainya di counter check in Air Asia yang terletak di pojok sebelah kanan, kami langsung bergegas menghampiri seorang wanita muda berjilbab yang kukira awalnya sangat ramah tapi tidak sampai dalam 5 menit kemudian ia berubah memarahi kami yang sangatlah polos karena belum tau prosedur melakukan check in untuk penerbangan internasional. Petugas wanita itu sangat marah kepada kami karena telat melakukan check in dan pemeriksaan bagasi. FYI, kita sudah harus melakukan check in penerbangan internasional selambat-lambatnya 1 jam sebelum jadwal keberangkatan. Sempat timbul kekhawatiran kami tidak jadi berangkat pada waktu itu karena sistem manajemen penerbangan Air Asia tidak mau menoleransi keterlambatan check in. Beruntung, kami masih diberi kesempatan, dengan mengikuti prosedur dan membayar uang pajak bandara sebesar Rp. 150.000/ orang.

 

Kondisi langit yang menyelimuti landasan bandara cukup cerah, sehingga kupikir tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan dengan tetap berdoa kepada Allah bahwa perjalananku kali ini akan baik-baik saja. Tepat pukul 11.20 WIB, kami take off menuju bandara internasional changi Singapura. Penerbangan kami selama satu setengah jam dipandu oleh seorang kapten pilot beragama islam yang kutahu dari nama depannya ialah Mohamad. Selama mengangkasa di udara, aku tak henti-hentinya berdzikir dan membaca ayat Al Qur’an, sebelumnya dengan mengamalkan doa Nabi Yunus sewaktu diperut ikan paus. La ilaaha illa Anta subhaanaka innii kuntu minazh zholimin, yang artinya tiada Tuhan kecuali Engkau maha suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang lalim.

 

Welcome to Singapore

Melalui microphone pesawat, awak kapal menginformasikan kepada penumpang bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di changi airport dan itu artinya kami akan menginjak Singapura untuk pertama kali. Terlihat dari jendela pesawat tata kota yang begitu apik, teratur, dan ditumbuhi pepohonan yang hijau. Itulah singapura, negara maju di ASEAN yang memiliki luas wilayah sebesar 699 km2 berhasil menempati urutan ke-4 negara paling makmur dan memiliki bandar udara internasional paling baik di dunia. Benar saja, ketika memasuki bagian dalam dari changi airport kami disuguhi fasilitas mewah, mulai dari koneksi free wifi yang sangat cepat, restoran-restoran lezat, kursi pijat yang siap menghilangkan penat, toilet yang bersih hingga akses menuju stasiun MRT menggunakan sky train dari terminal ketibaan.

 

Sebelum melanjutkan perjalanan menuju tempat penginapan yang terletak di race course road, kami menyempatkan diri untuk membeli tiket tourist pass seharga 26 SGD untuk jangka waktu 2 hari. Kartu tersebut bisa digunakan oleh para turis yang akan menjelajahi Singapura dengan transportasi umum seperti MRT dan bis. Jangan lupa, sebelum meninggalkan Singapura kita bisa meminta refund kartu sebesar 10 SGD di kounter yang hanya ada di beberapa stasiun MRT. Sebetulnya, kita juga bisa membeli tiket MRT dengan menggunaka mesin otomatis pembelian tiket. Caranya sangat gampang, cukup tekan stasiun MRT tujuan dan memasukan uang SGD kedalam mesin dengan seketika kita bisa mendapat tiket yang diinginkan.

 

Destinasi pertamaku menaiki MRT ialah menuju little india. Tak hentinya dibuat takjub dengan fasilitas publik yang ada di negeri identik dengan singa ini. Transportasi di jalan raya sangat teratur, tidak ada kendaraan yang berani melintas ketika lampu hijau untuk para pedestrian menyala. Akses menuju stasiun bawah tanah juga sangat mudah, tersedia penunjuk jalan yang sangat jelas dan lift serta eskalator untuk membuat nyaman para pengguna MRT dan fasilitas khusus bagi orang yang cacat secara fisik. Tidak hanya sebatas itu, bukti kemajuan peradaban di Singapura juga tercermin dari prilaku dan budaya yang ditunjukkan masyarakat disana. Tertib mengantri, bersih, disiplin dan sangat menghargai waktu. Pada peak time, aktivitas masyarakat di stasiun MRT sangatlah ramai, biasanya pagi hari untuk berangkat kerja dan sore hari selepas bekerja. Ketika berada di dalam MRT penumpang dilarang untuk makan/minum dan harus memprioritaskan tempat duduk bagi orang khusus. Terdapat 4 ragam bahasa yang digunakan dalam keseharian di Singapura. Pun demikian di dalam MRT, anda akan menemukan tulisan india, melayu, inggris dan china berada dalam satu deret.

 

Tak sampai 30 menit MRT yang kutumpangi telah sampai di stasiun little India untuk selanjutnya menuju Mori hostel. Sebetulnya, aku telah diberitahu oleh teman yang juga sedang ada di Singapura, bahwa untuk menuju hostel tempatku menginap sebaiknya aku turun 2 stasiun sebelum little india, yaitu bon keeng. Namun saran itu tak kuikuti karena keinginanku menjelajah little india yang tampaknya menarik. Setelah keluar dari stasiun MRT kulihat banyak sekali orang-orang berkulit hitam berparas India yang berlalu lalang atau sekedar duduk di pinggir jalan. Bangunan dan restoran yang berderet di sepanjang jalan identik dengan kebudayaan India. Aroma masakan yang khas, potret artis-artis bollywood yang terpampang di reklame sampai musik India pun menambah lengkap suasana ketika itu membuat aku serasa ingin menari ala-ala India yang kini tengah booming tayang di televisi indonesia. Mungkin itulah sebabnya mengapa kawasan ini disebut little india. Perhatianku langsung kutujukan pada amplop putih yang bertuliskan Mori Hostel, 429 race course road, Little India. Kusempatkan bertanya pada orang yang kutemui di jalan, namun banyak yang tidak mengetahuinya. Selama 45 menit kami terlantar menelusuri jalan hingga tiba di jalan yang bertuliskan race course road. Alamat sebentar lagi kami akan sampai di hostel, namun ternyata sulit juga mencari alamat itu di negeri yang luasnya hampir setara dengan Jakarta. Kali ini kuberanikan diri untuk bertanya kepada seorang ibu muda yang sedang bergandengan tangan dengan putri kecilnya. Berharap ibu ini bisa menunjukkan kami ke jalan yang benar. Dan ternyata dugaanku benar, dengan baik hati ibu tersebut menunjukkan kami jalannya.

gambar 2

Little India Street, Singapura

 

Mori Hostel

Di penginapan hanya tersedia kamar untuk 6 orang wanita yang disatukan dalam kamar berukuran sangat kecil namun nyaman untuk dijadikan tempat beristirahat. Sementara kedua orang temanku yang pria sudah berencana menginap di asrama mahasiswa NTU. Jarak keduanya cukup jauh. Setelah rehat sejenak, kami memutuskan untuk makan di pusat pertokoan jalan dekat race course. Tempat ini bisa dijadikan referensi bagi umat muslim yang sedang berkunjung ke Singapura untuk mencari makanan halal. Pada waktu itu sekitar pukul 17.30, ketika menemukan sebuah tempat yang paling mulia dan indah (read: masjid) kami menunaikan kewajiban untuk shalat terlebih dahulu. Di sebelah kanan seberang jalan masjid terdapat restauran halal khas Pakistan tempat kami membeli makan. Biaya makan disana cukup murah, hanya dengan 3,5 SGD kita sudah bisa mendapat 2 butir egg curry dan segunduk nasi putih di atas piring. Porsi tersebut bagiku sangatlah banyak, namun kelezatan bumbu kari dan telur membuatku sangat berselera untuk melahap semua makanan yang tersaji ditambah kondisi perut yang sangat lapar. Setelah kenyang, kami berwisata malam mengunjungi marina bay. Kemudahan akses transportasi di Singapura membuat kami berani pergi ke tempat-tempat yang wajib dikunjungi selama disana. Di Marina bay terdapat suatu gedung tinggi yang diatasnya terdapat kolam renang berbentuk seperti perahu, juga terdapat suatu badan perairan yang dilintasi oleh perahu wisata untuk menambah daya tarik wisata.

Kerlap-kerlip lampu disana ketika malam hari sangat indah. Beberapa jepret foto kuambil untuk mengabadikan momenku saat di marina bay. Ketika waktu menunjukkan pukul 21.30, kami kembali ke penginapan. Dua orang temanku pergi ke kampus NTU, sedangkan aku dan pipit pergi ke hostel. (tbc)

 

reviewer Ditha Inawati Sam
acc:0602015/0258/am/dithasam

Leave a Reply