Jelajah ASEAN (4)

written by Via Apriyani

 

Walking Very Noisy, You’re So Stupid (Jumat, 23 Januari 2015)

Salah satu kejadian yang cukup membuatku takut sekaligus tak bisa menahan ketawa ialah ketika ada seorang kakek bule berteriak padaku dari kejauhan sebuah lorong yang gelap. Kalau tidak salah waktu itu menunjukkan pukul 06.00 waktu Malaysia, letak kamar kami yang cukup jauh dengan kamar pria membuatku terpaksa harus berjalan dari pojok lorong kanan menuju pojok lorong kiri. Niatku ingin membangunkan 2 orang temanku di kamar yang persis bersebelahan dengan kamar seorang pria bule paruh baya. Karena lantai guest house yang terbuat dari kayu membuat suara langkah kakiku begitu nyaring terdengar ditambah suara teriakanku ketika memanggil nama seorang teman. Ketika aku hendak berbalik kembali menuju kamarku, tiba-tiba terdengar suara seseorang dengan sangat marah kepadaku dari kejauhan lorong yang gelap. Sekilas kulihat ada seorang kakek bule tua yang memarahiku dengan bahasa Inggris dan berkata “your walking sounds very noisy, so stupid”. Sontak aku kaget dan takut dibuatnya. Tubuhku bergemetar, sambil terbata-bata kukatakan “I’m so sorry sir” namun tampaknya ia tak menghiraukan permintaan maafku yang tulus dari lubuk hati yang terdalam ini. Peristiwa ini menjadi perjalanan berharga untukku agar tidak membuat kegaduhan dimanapun berada. Kuceritakan peristiwa ini kepada ketiga temanku dan sangat mengejutkan ternyata mereka juga sebelumnya pernah dimarahi oleh bapak bule tua itu, bahkan lebih parah. Sambil tertawa menggelitik salah seorang temanku mengejek dan kembali mengingat-ingat peristiwa itu.

 

Pagi-pagi sekali selepas shalat subuh kami menuju melaka sentral. Karena menunggu bas yang tak kunjung datang akhirnya kami sepakat menyewa taksi. Pukul 08.00 kami sampai di terminal melaka sentral, menyempatkan sarapan 30 menit sebelum bas kami berangkat ke terminal pudu raya sentral di Kuala Lumpur (KL). Melaka-KL hanya memakan waktu 2,5 jam. Lagi-lagi kami menaiki bas eksklusif, namun kali ini sangat ekslusif karena bas dilengkapi dengan fasilitas wifi ditambah bapak supir yang keturunan melayu menyetel lagu dangdut campuran antara melayu Indonesia di sepanjang perjalanan,

Ketibaan di pudu raya sentral, hal pertama yang kulihat disana ialah twin tower yang menjadi simbol kebanggaan Malaysia. Dari kejauhan nampak menara kembar tersebut berdiri kokoh menjulang dan membiarkan siapa saja dapat menikmati keindahannya. Tak sampai 1 jam kami berada di KL, kami sudah harus melanjutkan the very longest journey menuju Hatyai Thailand dengan bas.

 

11.00 waktu Malaysia – 19.15 waktu Thailand

Delapan jam kami berada di dalam bas menuju terminal Hatyai Thailand. Belum lagi dari Hatyai menuju Bangkok memakan waktu lebih dari 12 jam. Perjalanan yang sangat membosankan sekaligus menantang. Sebelum memasuki Thailand, kami harus melewati 1 kali pemeriksaan imigrasi. Tak lama waktu berselang dari imigrasi, kami sudah tiba di negeri gajah putih tepat pukul 19.30. Medan yang akan kulalui kali ini cukup berat, karena sebagian besar masyarakat Thailand tidak fasih berbahasa Inggris ditambah tulisan yang tertera adalah bahasa Thailand yang hurufnya meliuk-liuk. Khawatir dan cemas, hanya itu yang ada dalam pikiran kami. Beruntung, sesampainya di Hatyai aku memberanikan diri untuk menyapa seorang Bapak paruh baya yang ternyata adalah seorang muslim bernama Shalahudin bin Al Ayub. Dengan senang hati beliau menawarkan kami untuk pergi ke Bangkok bersama dengan bis seharga 990 THB (Thailand baht). Bis kami dijadwalkan berangkat dari Hatyai pukul 20.00. 30 menit waktu tersisa kami gunakan untuk mampir di pasar malam Hatyai. Awalnya kepercayaanku terhadap Uncle (sapaan akrab kami) belum sampai 70%. Sebab, aku ingat betul pesan yang aku baca di beberapa blog para traveler yang pernah menyambangi Thailand, bahwa kita harus waspada ketika berkunjung ke negara yang katanya the land of smile itu. Banyak orang yang berpura-pura berbaik hati kepada para turis asing, namun sebetulnya mereka adalah para oknum travel guide yang bisa memeras kantong turis dengan meminta bayaran yang sangat mahal. Tetapi, uncle merupakan orang yang sangat baik, ia tak segan menunjukkan identitasnya di paspor. Perlahan keraguanku pun hilang. Uncle merupakan warga Thailand yang bekerja di Brunei Darusalam, ia tinggal di Bangkok dan biasanya pergi mengunjungi keluarganya secara berkala. Walaupun dengan kemampuan bahasa Inggris yang terbata-bata, diselingi bahasa isyarat tubuh untuk berkomunikasi dengan uncle, kami tetap bersyukur dipertemukan dengan saudara sesama muslim di negeri yang mayoritas penduduknya beragama budha. Untuk mengisi perut kami yang kelaparan kami membeli satu kotak nasi berisi ayam goreng dan nasi kuning yang dijual oleh satu keluarga muslim di pasar malam Hatyai. Tak lama setelah kami makan, bis bertingkat menuju Bangkok pun datang. Aku tidak tahu jam berapa kami akan sampai di Bangkok, yang aku tahu bahwa perjalanan ini akan menjadi perjalanan panjang yang pernah kutempuh. Kami menumpang bis 2 tingkat yang dilengkapi dengan fasilitas air conditioner, 1 ruang kamar tidur di bagian belakang, full music lagu berbahasa Thailand, selimut dan makanan serta minuman ringan untuk para penumpang.

 

Sa Wad Dee Ka Uncle

Sepanjang perjalanan di dalam bis kami berbincang dengan uncle shalahudin. Ia cukup ramah dan sangat baik kepada kami. Tak banyak yang kami bahas malam itu, mengingat komunikasi kami terhambat oleh bahasa. Ada satu hal kejadian yang cukup membuatku terharu malam itu. Ketika aku menanyakan tentang kewajiban shalat, uncle mengeluarkan sebuah sajadah dan surat yasin dari dalam tas ranselnya yang berwarna kuning. Entah rencana apa yang telah diatur oleh Allah SWT sehingga bisa mempertemukan kami dengan orang asing muslim yang begitu taat menjalankan perintah-Nya.

 

Terlepas dari segala pengalaman yang aku alami perjalananku malam itu sangat tidak kunikmati karena aku telah kehilangan kacamata yang selama ini membantu menormalkan penghilatan miopiku. Kuhabiskan waktu untuk banyak tidur menyimpan tenaga untuk esok hari. Pukul 04.00 dini hari, bis berhenti pada sebuah tempat makan yang sangat besar, tak tahu di daerah mana. Semua penumpang turun dan dipersilahkan untuk makan di kedai makanan yang tersedia. Cukup banyak pilihan varian makanan khas Thailand yang disajikan, namun uncle dan kami sepakat untuk menuju area makanan halal khas Thailand.

Setelah 30 menit waktu beristirahat, bis kembali melanjutkan perjalanan menuju Bangkok. Kini waktu tempuh menuju Bangkok hanya tinggal beberapa jam saja. Jangan tanyakan kini aku sedang di wilayah Thailand bagian mana. Karena aku dan ketiga teman yang lain pun tak tahu.

 

gambar 6
Pipit bersama Uncle Salahudin dari Brunei Darusalam

 

 

reviewer Ditha Inawati Sam
acc:06022015/0334/am/dithasam

Leave a Reply