Imunisasi, Perlukah?

14626250773261462625079852

Indonesia memiliki sebuah program yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan anak dan mencegah mereka dari kecacatan atau kematian akibat penyakit infeksi. Program itu adalah Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang tahun ini diadakan pada tanggal 8-15 Maret 2016.

Dalam rangka menuansakan Pekan
Imunisasi Nasional (PIN), penting untuk kita memahami apa manfaatnya dan seberapa perlukah imunisasi.

Imunisasi adalah suatu cara untuk memperkuat sistem pertahanan tubuh anak (yang notabenenya belum begitu kuat) dari penyakit yang akan menyerangnya. Imunisasi terdiri dari dua jenis, imunisasi aktif (melalui vaksin dari virus yang sudah dilemahkan dgn tujuan tubuh anak secara aktif akan menghasilkan zat anti setelah adanya rangsangan vaksin dari luar tubuh) dan imunisasi pasif (tubuh anak tidak membuatnya sendiri. Imunisasi ini dilakukan dengan menyuntikan zat anti sehingga kadarnya dalam darah meningkat).

Pada umumnya, imunisasi diberikan pada bayi yang sudah berusia 2 bulan. Bayi berusia dua bulan dianggap sudah mampu untuk memproses vaksin yang diberikan. Bila bayi berusia kurang dari 2 bulan (neonatus), tubuhnya belum mampu responsif terhadap vaksinasi sehingga vaksinasi yang dilakukan sebelum usia 2 bulan perlu diulang.
Pun tidak demikian dengan vaksin Hepatitis B yg harus diberikan beberapa jam baru lahir karena selain respon imun tubuhnya terhadap hepatitis sudah muncul, memberikan vaksin Hepatitis B juga mampu melindungi bayi yang terkena risiko terutama bayi yang dikandung oleh ibu dengan Hepatitis B.

Masing-masing negara memiliki jenis imunisasi dasar wajib berbeda-beda. Tergantung dari jenis penyakit yang merebak di wilayah negara tsb.
Nah, di Indonesia, dikenal ada lima imunisasi dasar lengkap berdasar pada penyakit yang kerap menimbulkan angka kesakitan (morbiditas) tinggi, yaitu (IDAI, 2014):
1) Polio
2) Campak
3) DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus)
4) BCG
5) Hepatitis B
Imunisasi ini memiliki jadwal masing-masing.

Mengapa perlu ada penjadwalan imunisasi?
Hal ini dimaksudkan agar seiring berjalan dengan kemampuan danĀ  perkembangan daya kekebalan si bayi atau anak. Diperlukan jadwal imunisasi agar respon kekebalan si bayi atau anak agar berkembang secara efektif. Oleh karena itu, setiap ibu yang memiliki anak diharapkan mematuhi jadwal imunisasi yang telah ditentukan demi mendapat hasil yang optimal.

Ada keyakinan bahwa imunisasi menyebabkan anak autism, benarkah?
Setiap vaksin diberi zat tambahan yang mampu melindungi vaksin dari bahaya kontaminasi virus/jamur/bakteri lain dan mengawetkan vaksin.
Di dalamnya terdapat Thimerosal yang secara teori dianggap menyebabkan autisme, kesulitan bicara dan hiperaktif. Namun, kini pemakaian zat ini telah dikurangi ke kadar amannya, yaitu 1 ug yang secara alamiah tidak menimbulkan apa-apa. Ditahun-tahun ke depan seiring kemajuan sains dan teknologi, tentu diharapkan akan ada inovasi zat penggantinya yang lebih aman :)

Imunisasi telah menyelamatkan lebih dari 2-3 juta kematian balita dan anakĀ  didunia akibat penyakit infeksi seperti campak, polio, hepatitis B, pertusis, tetanus, dan difteri. Imunisasi dianggap sebagai sebuah cara yang paling berhasil dan efektif terutama di negara berkembang.

Imunisasi di Indonesia ditujukan agar angka kejadian penyakit dan angka kematian akibat penyakit yang dapat dicegah menurun.

Maka, membawa anak ke pelayanan kesehatan primer terdekat untuk mendapatkan imunisasi dasar lengkap merupakan tanggung jawab seorang ibu untuk melindungi anaknya dari penyakit menular. Dengan demikian, seorang ibu telah berjasa karena seorang balita atau anak yang telah diimunisasi pun turut andil berperan dalam menghambat perkembangan penyakit di kalangan masyarakat.

Sederhana tapi sangat bermakna, bukan?

Nb: Jadwal Imunisasi dapat merujuk pada tabel jadwal imunisasi IDAI 2014

Sumber:
1. Achmadi, Umar Fachmi. (2006). Imunisasi Mengapa Perlu?. Jakarta: Kompas.
2. Markum, AH. (2000). Imunisasi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
3. Prayogo, Ari, et al. Kelengkapan Imunisasi Dasar pada Anak Usia 1-5 Tahun. Sari Pediatri Vol.11, No.1, Juni 2009.http://www.saripediatri.idai.or.id/pdfile/11-1-3.pdf [diakses tanggal 10 Maret 2016, pukul 19.15 WIB]
4. Soetjiningsih. (2012). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.
5. UNICEF. (2004). Vaccines: Handled with Care. New York: United Nations Children’s Fund.
6. Wiradharma, D, Karin, W, Inge, R. (2012). Konsep Dasar Vaksinasi. Jakarta: Sagung Seto.

Sumber gambar:
http://www.riauonline.co.id/2016/03/08/enggan-bawa-bayi-anda-imunisasi-polio-baca-dulu-ini-biar-nggak-nyesal

Divisi Research
UI Achievement Community
#ExcellentCollaboration

 

Leave a Reply